Proses
perkembangan kehidupan beragama boleh dikatakan cukup unik dibandingkan dengan
perkembangan dalam diri manusia yang lain. pengaruh lingkungan, terutama
keluarga, memang sangat dominan bagi perkembangan keberagamaan seseoarang.
Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang yang sangat religius akan
lebih besar kemungkinannya berkembang lebih religius dibandingkan dengan yang
tidak. Terbukti dalam kehidupan sekarang ini, anak yang orang tuanya menganut
agama islam maka otomatis anaknya akan ikut menganut agam islam. Begitupun
dengan orang tua yang menganut agama Kristen atau yang lain-lain maka anakny
akan cenderung mengikuti pemahaman dari orang tuanya. Oleh karena itu Clark
(Jalaludin, 2007) menyebutkan salah satu cirri kehidupan beragama pada masa
kanak-kanak adalah sifatnya yang imitatif. Artinya anak-anak hanya menirukan
apa yang diyakini dan dilakukan oleh keluarga khususnya dalam hal ini orang
tuanya.
Perkembangan
agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam
keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk
pengalaman yang bersifat religius, (sesuai dengan ajaran agama) karena semakin
banyak unsur agama maka sikap, tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi
hidup akan sesuai dengan ajarana agama.
Setiap
orang tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik,
mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan yang terpuji.
Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non
formal. Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan,
pendengaran, maupun prilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan
pribadinya.
Masa
pendidikan di SD merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina
pribadi anak setelah orang tua, sekolah dasar merupakan dasar pembinaan pribadi
dan mental anak. Apabila pembinaan pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik,
maka si anak anak memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi
dimasa remaja itu tidak akan mengalami kesulitan.
Pendidikan
anak di sekolah dasarpun merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa
agama pada anak. Apabila guru agama di SD mampu membina sikap positif terhadap
agama dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhlak anak, maka untuk
mengembangkan sikap itu pada masa remaja muda dan si anak telah mempunyai
pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada
masa remaja. Anak-anak akan bersifat sama sopan dan hormatnya kepada orang lain
seperti kita kepada mereka.
Jadi
dapat diprediksikan jika anak dibesarkan dilingkungan rumah dimana mereka
diperlakukan dengan tidak penuh kewibawaan, dan tingkah laku yang tidak hormat,
misalnya seperti bicara kotor di depan anak, mengata-ngatai anak dengan
perkataan yang kurang baik. Maka akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka
memperlakukan orang lain. Disitu akan timbul sifat yang kurang baik dan kurang
sopan yang dimiliki dan yang diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari
terhadap orang lain.
Sebagai
pengendalian atas ketidak baikan sikap anak tersebut, penulis memberikan saran
agar orang tua dan guru selaku orang yang paling akrab dengan anak, harus
membimbing dan bersikap yang baik terhadap anak. Karena bagaimanapun juga orang
tua dan guru merupakan teladan yang selalu dan senantiasa di contoh oleh anak.
Daftar Pustaka :
Subandi, M. A. (2013). Psikologi Agama &
Kesehatan Mental. Yagyakarta : PUSTAKA BELAJAR.