Minggu, 29 Juni 2014

Perkembangan Keidupan Beragama Masa Kanak-kanak



Proses perkembangan kehidupan beragama boleh dikatakan cukup unik dibandingkan dengan perkembangan dalam diri manusia yang lain. pengaruh lingkungan, terutama keluarga, memang sangat dominan bagi perkembangan keberagamaan seseoarang. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang yang sangat religius akan lebih besar kemungkinannya berkembang lebih religius dibandingkan dengan yang tidak. Terbukti dalam kehidupan sekarang ini, anak yang orang tuanya menganut agama islam maka otomatis anaknya akan ikut menganut agam islam. Begitupun dengan orang tua yang menganut agama Kristen atau yang lain-lain maka anakny akan cenderung mengikuti pemahaman dari orang tuanya. Oleh karena itu Clark (Jalaludin, 2007) menyebutkan salah satu cirri kehidupan beragama pada masa kanak-kanak adalah sifatnya yang imitatif. Artinya anak-anak hanya menirukan apa yang diyakini dan dilakukan oleh keluarga khususnya dalam hal ini orang tuanya.
Perkembangan agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk pengalaman yang bersifat religius, (sesuai dengan ajaran agama) karena semakin banyak unsur agama maka sikap, tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajarana agama.
Setiap orang tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal. Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun prilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya.
Masa pendidikan di SD merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang tua, sekolah dasar merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental anak. Apabila pembinaan pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik, maka si anak anak memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi dimasa remaja itu tidak akan mengalami kesulitan.
Pendidikan anak di sekolah dasarpun merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama di SD mampu membina sikap positif terhadap agama dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhlak anak, maka untuk mengembangkan sikap itu pada masa remaja muda dan si anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja. Anak-anak akan bersifat sama sopan dan hormatnya kepada orang lain seperti kita kepada mereka.
Jadi dapat diprediksikan jika anak dibesarkan dilingkungan rumah dimana mereka diperlakukan dengan tidak penuh kewibawaan, dan tingkah laku yang tidak hormat, misalnya seperti bicara kotor di depan anak, mengata-ngatai anak dengan perkataan yang kurang baik. Maka akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Disitu akan timbul sifat yang kurang baik dan kurang sopan yang dimiliki dan yang diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari terhadap orang lain.
Sebagai pengendalian atas ketidak baikan sikap anak tersebut, penulis memberikan saran agar orang tua dan guru selaku orang yang paling akrab dengan anak, harus membimbing dan bersikap yang baik terhadap anak. Karena bagaimanapun juga orang tua dan guru merupakan teladan yang selalu dan senantiasa di contoh oleh anak.


Daftar Pustaka :
Subandi, M. A. (2013). Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yagyakarta : PUSTAKA BELAJAR.