Minggu, 20 April 2014

Keunikan Merupakan salah satu Pertimbangan dalam Menarik Kesimpulan terhadap Perilaku Orang Lain

Untuk memahami secara jelas perilaku – perilaku manusia dalam berinteraksi sosial salah satunya dengan adanya atribusi sosial. Sedangkan makna dari atribusi sosial sendiri adalah memahami perilaku diri sendiri atau orang lain dengan menarik kesimpulan tentang, apa yang mendasari atau melatarbelakangi perilaku tersebut. Heider 1958, Jones dan Davis 1965 (dalam Fisher, 1982:36) menyebutkan bahwa atribusi yakni cara – cara individu mengambil kesimpulan tentang karakteristik stabil orang lain (seperti motif, sikap, kemampuan – kemampuan) hanya dengan cara mengobservasi perilakunya.  Menurut pendapat penulis, sebelum manusia melakukan atribusi sosial, terlebih dahulu manusia melakukan yang namanya persepsi sosial. Persepsi sosial adalah cara-cara individu berfikir tentang orang lainnya. Ketika individu berinteraksi dengan orang lain, hal itu berarti proses persepsi sosial sedang berlangsung. Salah satu prinsip persepsi sosial adalah selectivity (penseleksian stimulus) (Fisher…dalam Shinta, 2002). Tetapi ada kalanya orang lain suatu waktu bersikap yang bukan merupakan sikap aslinya dalam kata lain bisa dibilang bertopeng hanya karena agar orang tersebut ingin dianggap baik oleh orang lain. Untuk mengetahui karakteristik orang lain dengan mudah diperlukan adanya atribusi sosial yang mana atribusi sosial dapat dibentuk karena banyak  berinteraksi dengan orang lain. misalnya kasir took swalayan yang tersenyum kepada semua langganannya atau satpam yang mengusir anak-anak kampong, berperilaku seperti itu karena tugasnya, bukan karena benar-benar ramah atau bengis.oleh karena itu kita harus lebih cermat lagi mengamati perilaku orang lain. Nah, disitulah dibutuhkan hubungan antara persepsi dan atribusi sosial.

Harlod Kelley dalam teorinya juga menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley mengungkapkan tentang salah satu factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh faktor dari luar diri. Kemudian Fisher (1982:37) juga mencatat pendapat dari Jones dan Nisbett pada tahun (1972) tentang sumbangan penting dari teori persepsi. Kedua peneliti itu mengatakan bahwa peran individu dalam suatu situasi (baik sebagai perilaku ataupun pengamat) merupakan penentu bagi jenis atribusi yang dibuat. Si perilaku cenderung membuat perilaku berdasarkan persepsinya terhadap lingkungan sekitar. Ia juga tahu bagaimana harus bertindak dalam situasi yang sama atau yang berbeda. Sebagai ilustrasi penulis memberi Contoh sebagai berikut : santi adalah siswa SMA yang kemampuan kognitifnya bagus sedangkan tasya juga siswa SMA yang kemampuannya baik, keduanya sama – sama memiliki kepanpandaian, sama – sama berprestasi, tetapi mereka tetap berbeda. Karena konsistensi santi berada pada hal-hal yang pasti maka kemampuan santi yang menonjol di bidang hitungan, seperti Matematika, dan Fisika. Berbeda dengan Tasya yang memiliki kemahiran dalam hal IT hal itu dilatarbelakangi oleh usaha dan kesungguhan tasya pada bidang tersebut. Dari kepandaian yang dimiliki oleh santi dan tasya maka dalam hal ini terjadi interaksi antara keduanya  dengan pihak sekolah. Yang Sehingganya dengan konsistensi yang dilakukan mereka pada bidangnya masing-masing, sudah jelas bahwa mereka (sinta dan tasya) memanglah benar-benar siswa yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Hal ini dibuktikan oleh hasil ujiannya yang setiap waktu selalu bagus, tidak pernah mendapat nilai dibawah 8 selalu saja diatas rata-rata. perilaku yang dimiliki oleh tasya dan santi yang telah membuktikan bahwasanya mereka berdua itu mempunyai kepandaian dibidangnya masing-masing maka dibentukalah suatu kelompok yang diketuai oleh mereka berdua. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan dari para guru terhadap kemampuan yang dimiliki oleh santi dan tasya. Proses interaksi sosial yang berupa persepsi sosial memiliki kontribusi terhadap konsistensi perilaku individu. Konsistensi ini kerupakan bagian dari teori atribusi.

Berdasarkan hal diatas, penulis memprediksikan jika kita menilai orang lain dari perilakunya saja maka kita bisa saja akan terbodohi oleh topeng mereka dan agar kita dapat mengetahui kesesuaian antara perilaku seseorang dan kepribadian yang sebenarnya seseorang itu miliki, maka diperlukan suatu pengendalian dengan cara observasi yang bisa berbentuk interaksi dan atribusi sosial, agar kita tidak terkecoh olek kepura-puraan orang lain.

Membaca Merupakan Jendela Dunia

Rina Hartatik
13.1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Membaca merupakan cara mendapatkan informasi, pengertian, dan pemahaman dari apa yang telah kita tulis. Membaca dan mendengarkan adalah 2 cara untuk kita bisa memahami suatu permasalahan dengan baik dan benar. ada yang mengatakan bahwa membaca merupakan jendela dunia, mengapa seperti itu?, karena dengan membaca kita dapat mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui, bisa mengetahui hal-hal yang berada jauh dari kita, seperti halnya membaca berita, membaca pelajaran, bahkan membaca keadaan orang lain.
Broto (1975) mengemukakan bahwa membaca bukanlah hanya mengungkapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan. Dengan demikian, membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis. Banyak hal yang akan kita peroleh jika kita memahami isi tulisan yang telah kita baca. Pembelajaran membaca bagi pelajar seharusnya sudah diterapkan sejak seseorang masih kecil dan kesulitan membaca harus segera diatasi agar anak yang kesulitan membaca bisa mempelajari berbagai bidang study melalui membaca. Karena menurut saya membaca merupakan kunci dari segala hal. seseorang bisa berbahasa inggris karena membaca, seseorang bisa menjawab tugas – tugas diri dosen karena membaca, bahkan seseorang tidak akan mampu menjawab soal-soal hitungan seperti halnya Matematika jika kita tidak bisa membaca. Berdasarkan masalah yang saya bahas pada artikel kali ini saya akan membari contoh: dulu waktu saya masi duduk di bangku SD saya punya teman yang waktu itu merupakan teman yang sangat mahir jika dihadapkan dengan materi hitung-hitungan, jika saya boleh jujur dia adalah siswa yang paling pandai di sekolah SD saya dulu dari kelas 1-6 di bidang menghitung. Tapi karena dia mempunyai kesulitan dalam membaca akhirnya pada ujian semester nilainya paling rendah, hanya karena dia tidak bisa memahami soal, sebab dia sama sekali tidak bisa membaca. Sekalipun pada materi Matematika dia bukanlah siswa yang selalu mendapatkan nilai terbaik, hal itu terjadi karena dia tidak mampu memahami perintah-perintah yang berada pada soal. Jadi saya simpulkan membaca merupakan kunci agar kita dapat membuka jendela dunia.
jika seseorang kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya membaca buku, maka disitu akan melahirkan seseorang yang kurang berpengetahuan dan kudate (kurang update)  saya prediksikan faktor yang menjadi penyebab kurangnya minat baca, di antaranya budaya menonton lebih mendominasi dari pada budaya baca, mahalnya harga kertas yang berimbas harga-harga buku menjadi mahal, dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah tentang pentingnya membaca buku.
Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Thorndike (1967) bahwa membaca merupakan proses berfikir atau bernalar. Dari itu untuk menjadikan seseorang tumbuh dengan sejuta pengalaman dan kaya akan pengetahuan dan informasi maka seseorang harus memperbanyak membaca. Karena dengan membaca seseorang akan dapat memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Daftar Pustaka:
Abdurrahman, M. (2012). Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis, dan Remidiasinya. Jakarta: RINEKA CIPTA


“ Ide keabadian ”

Hati dalam bahasa al-qur’an adalah qalbu yang artinya berubah. Ada yang mengatakan tidak dikatakan hati kalau tidak berubah-ubah. Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang dalam hidupnya di pimpin oleh segumpal daging yang disebut hati. Dengan perubahan itulah sering kali manusia berkeluhkesah, tidak merasa puas, dan kecemasan yang dihadapinya terus-menerus ini adalah karena Allah menempatkan dalam setiap hati manusia sebuah ide tentang keabadian.
Pada dasarnya, manusia setiap melakukan sesuatu menginginkan keuntungan bagi dirinya sendiri, manusia senantiasa menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih. Lebih kaya, lebih seneng, lebih berkuasa, lebih pinter, lebih hebat, pokoknya lebih segalanya lah dari keadaan yang terjadi pada saat ini. Hal itu yang membuat saya yakin   bahwa keabadian hanya dimiliki dzat yang maha satu. Seperti sebuah contoh yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, seseorang yang sedang mencalonkan diri sebagai kepala desa yang dengan keinginan tinggi terhadap profesinya itu membuat dirinya mau melakukan sesuatu yang kurang baik denagn cara menyuap masyarakat yang ada di desanya agar dirinya terpilih sebagai orang nomor satu di desanya tersebut. Setelah keinginannya itu tercapai dia mulai menunjukkan sikap tamaknya, ketika sudah berakhir masa jabatannya dia mencalonkan diri lagi sebagai bupati. Dengan suapan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Ini mewakili sebuah jenis penyimpangan dari nafsu yang ada dalam diri manusia, untuk bergerak kepada Allah, yang mencukupi segala yang ada. Tetapi tanpa “Taqwa”, tanpa perhatian pada sebuah kesadaran ilahi. ide keabadian ini yang tertanam dalam hati manusia dapat menuntunnya kepada suatu tuntutan untuk mendapatkan segala sesuatu yang salah dan menyalahi aturan Ilahi yang telah digariskan-Nya. Nabi Muhammad SAW.telah memberikan perbandingan antara hati manusia dengan selembar bulu tak kekal yang terombang-ambing kesana kemari oleh tiupan angin dan sinar yang menyilaukan, Beliau membicarakan tentang hati yang tidak tertuntun, dari manusia yang tidak mempunyai petunjuk yang benar.
Niat yang baik sebagai ide keabadian, sangatlah penting tertanam dalam hati manusia sebelum melakukan aktivitas apapun. Al-Qur'an menggambarkan Islam sebagai perluasan dari hati. Maka inilah Islam (ketundukan) kepada kehendak Allah yang merubah hati. Ini adalah kerangka kerja dari ketundukan yang mengembalikan kecondongan hati menjauh dari duniawi dan mendekatkan diri kepada Allah, dan yang menyiapkan arah bagi ide keabadian yang berada dalam diri manusia. Yang hatinya selalu berubah sesuai arah yang Allah ridhai, “tsabbit qhalby alaa dhinik” sehingga kita menjadi orang yang selalu mendapatkan kasih sayang yang abadi dari-NYA di dunia sampai hari kebangkitan yang abadi.




“Peran Seorang Sahabat”

sahabat adalah orang yang selalu ada disaat kita lagi bahagia. Disaat itu kita dan sahabat kita akan memanin senyum bersama sebagai tanda bahwa jika kita bahagia sahabatpun akan turut berbahagia. Namun bukan hanya disaat kita lagi tersenyum saja sahabat yang mau ada buat kita, tapi disaat kita sedih pun sahabat mau membagi waktunya untuk menemani kita, memberi semangat agar kita mau bangkit dari keterpurukan yang sedang dialami kita. Sahabat hadirmu membawa cinta, dan karnamu juga sahabat,, saya bisa tau akan tulusnya sebuah kasih sayang.
Bagi saya sahabat itu adalah guru. Guru yang secara samar mengarahkan kita ke jalan yang benar, guru yang secara samar menolong kita agar kita tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang kurang baik, dan sahabat juga menjadi guru yang selalu mengajarkan kita tentang solidaritas dan kebersamaan. Kali ini saya akan menceritakan kisah saya bersama sahabat saya. saya punya sahabat yang bagi saya diamnya adalah motivasi. Kenapa saya bilang seperti itu, karena jika sahabat saya mengetahui saya melakukan sesuatu yang kurang baik, maka sahabat saya akan memandang saya tanpa berkata satu huruf pun, ketika sudah begitu saya akan sadar bahwa sebenarnya saya salah, selama saya sadar atas kesalahan yang telah saya perbuat tapi saya masih belum punya kesadaran untuk memperbaikinya maka selama itu pula sahabat saya akan tetap diam ketika bertemu saya, dan hal itu yang sebenarnya mengajari saya untuk lebih bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah saya perbuat. Ada yang mengatakan “Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah”, itulah sahabat.
Setiap orang pasti membutuhkan yang namanya sahabat, karena sahabat itu salah satunya orang yang setia buat kita. Setia membantu kita, setia membagi waktu untuk kita , setia dan percaya menceritakan masalahnya kepada kita, dan sahabat juga senantiasa setia mendengarkan cerita kita tanpa mengeluh sedikitpun, dan banyak kesetiaan - kesetiaan lainnya yang telah sahabat lakukan untuk kita. Begitu tulusnya sahabat mencintai kita, tapi kadang ketulusan yang telah sahabat korbankan buat kita malah kita balas semuanya dengan mengacuhkan dan tidak mempedulikannya sama sekali. Saya ambil contoh dari cerita saya lagi. Dulu waktu saya mondok, Ketika itu ada pindahan kamar dan kebetulan saya tidak sekamar lagi sama sahabat saya, sejak itu saya lebih akrab sama teman-teman di kamar baru saya dari pada sama sahabat yang selalu meluangkan waktunya buat saya, hubungan saya sama sahabat saya waktu itu sudah mulai renggang, saya simpulkan karena saya sudah terpengaruh sama teman teman baru saya sehingga saya harus mengesampingkan sahabat terbaik saya, saya mengacuhkan dia, tak peduli terhadap dia lagi. Hemmmz jika ingat hal itu saya merasa, saya adalah orang yang paling tidak berfikir, karena telah membiarkan orang yang paling pengertian terhadap saya kecewa hanya karena sikap saya yang terpengaruh sama teman baru yang belum pasti dia itu lebih baik dari pada sahabat saya.
Dari itu saya sarankan kepada kalian semua untuk selalu menghargai dan memelihara selalu persahabatan kalian dengan mereka (sahabat kalian). Karena seorang sahabat bisa lebih dekat dengan kita dari pada saudarat kita sendiri. Jangan pernah biarkan sahabat kita yang selalu baik buat kita kecewa karena sikap kita yang tidak mengerti akan keinginannya. Buatlah dia bahagia karena sahabat selalu berusaha untuk membuat kita tersenyum bahagia menjalani hidup. J
Sahabat
Terimakasih untuk semua waktumu
Terimakasih untuk semua kebaikanmu, dan
Terimakasih pula kau sudah menyadarkan aku,
Bahwa aku masih BEHARGA
I Miss You, My Best Friend
.


Sabtu, 19 April 2014

“ Rahasiaku Aman Bersama Cermin Kamarku “

Rina Hartatik
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Telah banyak pembahasan yang mengatakan bahwa Tuhan itu tempat bagi hambaNya mencurah, meminta, sekaligus mengharap. Jika difikir kembali pernyataan tersebut tidak dapat dibantah lagi kebenarannya. Karena dengan mendekatkan diri pada tuhan kita akan merasakan ketenangan, keamanan dan kenyamanan. Sekalipun demikian, tetapi masih banyak diantara kita yang membutuhkan orang lain untuk membagi cerita ataupun meminta solusi ketika mempunyai masalah. Kejadian yang seperti itu bukan berarti kita tidak menganggap adanya Tuhan. Adakalanya bagi kita yang berkepribadian ekstrovet kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk mencurahkan setiap titik yang menjadi masalah dalam hidupnya. Namun bukan berarti bagi kita yang berkepribadian seperti itu tidak membutuhkan Tuhan, justru dia sadar tidak ada kekuatan yang lebih hebat dibanding kekuatan Tuhan, akan tetapi karena takdir yang menjadikannya berkepribadian selalu terbuka pada orang lain, akhirnya selain berkisah pada tuhan, orang yang ekstrovet itu juga memilih untuk menceritakan pengalamannya pada orang lain.
Senyaman apapun kita ketika menceritakan masalah kita pada orang lain. Tetap saja kita akan selalu memilah dan memilih siapa yang pantas mengetahui cerita kita dan siapa yang mampu memberikan solusi terbaik terhadap masalah yang dialami kita, dengan tujuan agar masalah kita aman bersama mereka. Pada dasarnya jika kita simpulkan, satu-satunya orang yang mampu memberikan solusi dan mampu menjaga rahasia kita adalah diri kita sendiri. Karena sebenarnya kita adalah orang yang mampu memahami terhadap kebutuhan dan keinginan yang ada pada diri kita sendiri dan dengan itu kita akan mencari cara dan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak satupun diantara kita yang mau masalah “yang memalukan” yang terjadi pada kita diketahui orang banyak. Dalam hal ini saya tidak akan memberikan gambaran tentang orang lain (baik itu tentang dia ataupun mereka) saya akan mengambil contoh dari pengalaman saya sendiri, saya tidak akan mengatakan saya ini pemilik kepribadian introvert ataupun ekstrovet. Tapi kali ini saya hanya ingin menuturkan bahwa selain saya percaya pada kekuatan do’a saya juga percaya pada kesetiaan cermin biru yang ada dikamar saya. Ketika saya punya masalah yang tidak mungkin saya ceritakan pada orang lain maka saya akan menceritakan masalah saya  itu didepan cermin seolah-olah saya sedang curhat dengan cermin, tetapi sebenarnya itulah cara yang saya pilih untuk sedikit mengurangi beban dan kecemasan yang dialami saya. Karena saya percaya dengan begitu rahasia saya aman bersama kesetiaanya. Ketika saya sudah menceritakan semua permasalahan yang terjadi pada diri saya didepan cermin, maka saya juga menjadi motivator terhadap diri saya sendiri didepan cermin pula. Disitu saya memegang dua peran, yang pertama menjadi orang yang sedang mengalami masalah, terus yang kedua saya juga menjadi seorang motivator terhadap diri saya sendiri agar bisa kuat menghadapi masalah seperti apapun. Kedengarannya tampak lucu tapi dengan alternatif seperti itulah yang membuat diri saya merasakan nyaman karena seakan akan saya sudah menceritakan problem yang dialami saya kepada orang lain yang tidak akan membocorkan masalah saya tersebut.

Saya yakin kebanyakan dari kita tidak akan menceritakan semua masalahnya terjadap orang lain. Pasti ada satu atau dua masalah yang sepanjang hidupnya akan menjadi rahasianya sendiri. Dengan kejadian yang seperti itu penulis memprediksikan, apabila seseorang mempunyai masalah yang cukup privasi yang ada kemungkinan ketika diceritakan terhadap orang lain akan mencemarkan nama baiknya maka orang yang seperti itu akan cenderung dilema. Di antara bercerita tapi menanggung malu, atau lebih memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri yang akhirnya membuat dirinya mersa terbebani. Dari permasalahan diatas penulis juga memberikan pengendalian, jika permasalahan yang sudah membuat diri kita itu dilema terjadi, maka hal yang seharusnya kita lakukan ialah terlebih dahulu memahami terhadap diri kita sendiri, sekiranya pemenuhan kebutuhan apakah yang harus di capai untuk mengurangi sedikit beban yang terjadi pada diri kita. Setelah itu berusahalah menjadi orang yang lebih kreatif, bentuklah hal-hal yang bisa membuat diri kita merasa nyaman dengan ke kreatifan yang telah kita buat. Seperti halnya tadi saya lebih memilih curhat terhadap cermin di dalam kamar saya, karena saya menganggap cermin itu akan selalu setia mendengarkan, memberi solusi dan menjaga rahasia. Itu alternatif yang saya pilih sebagai bentuk modifikasi cara saya dalam menghibur diri agar rahasia saya aman, dan agar masalah yang terjadi pada saya tidak lagi membebani fikiran saya.

Sabtu, 12 April 2014

Usaha adalah Jalan Menuju Sukses

Benar-benar kehabisan akal untuk tema artikel kali ini. Sudah lama berfikir, tetapi tetap saja tidak ada ide yang mau ditulis. Setelah bosan berfikir tidak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin membaca kitab Ta’lim karangan (Syeih Al-Burhan)yang diterjemahkan oleh syeih Umar Faruq, yang ada di rak buku samping tempat saya duduk waktu itu. Ketika saya buka hal, 37 saya langsung memandangi baris kedua dari atas yang berbunyi “man tholaba syaian wajadda wajada” yang artinya barang siapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh-sungguh, maka pasti orang itu menemukan sesuatu yang ia maksud”. Pada bagian tersebut saya berfikir semua tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Akhirnya saya optimis malam ini saya pasti bisa menulis artikel yang temanya sudah ditentukanin oleh dosen saya, yaitu aktual.
Dalam tema kali ini saya akan membahas tentang usaha dan keinginan yang tinggi. Saya berfikir kesuksesan itu berawal dari keinginan yang tinggi dan membentuk suatu usaha yang akhirnya mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang akhirnya membuahkan hasil yang terbaik pula. Saya pernah mendengar cerita yang dalam hal itu diperani oleh pendeta yang bernama “Ibnu Hajar”, dulu dia pernah nyantri di suatu tempat, yang pada saat itu dia merupakan santri paling bodoh diantara teman-temannya yang juga nyantri di tempat dia nyantri. Lalu Ibnu Hajar menyadari akan kekurangan yang dia miliki itu, dia mempunyai keinginan yang tinggi untuk membuang sifat bodohnya dengan usaha belajar semaksimal mungkin, akan tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kegagalan telah membuatnya berkecil hati, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti belajar selama-lamanya. Setelah dia merasa tidak ada jalan untuk memecahkan masalahnya, dia pergi ke suatu tempat yang dalam ceritanya ke sebuah gua, ketika itu dia melihat batu keras yang bisa berlubang hanya karena ditetesi air hujan secara terus menerus, disitu dia sadar jika seseorang menginginkan satu hal seseorang itu harus mau berusaha lebih konisten lagi, tidak pernah takut terhadap kegagalan karena tidak ada kata sia-sia jika kita mau bersunguh-sungguh dan busaha. Seperti yang telah dikatakan oleh Imam Syafi’I bahwa “Kesungguhan dalam melakukan suatu hal bisa mendekatkan sesuatu yang jauh, dan kesungguhan juga bisa membuka setiap pintu-pintu yang terkunci”. Sebenarnya jika dikaji lagi, Ibnu Hajar mendapatkan petunjuk itu bukan karena kebetulan, tetapi karena keinginan dan usaha yang telah dia lakukan baru terjawab di hari itu.

Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id Al Ahkam. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan (kepentingan), maka kita dituntut untuk menakar mana kepentingan yang lebih utama untuk dilaksanakan. Jadi jangan mudah menyimpulkan bahwa apa yang kita usahakan telah gagal dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi.


Rina Maulidah