Untuk memahami secara jelas perilaku – perilaku manusia dalam
berinteraksi sosial salah satunya dengan adanya atribusi sosial. Sedangkan
makna dari atribusi sosial sendiri adalah memahami
perilaku diri sendiri atau orang lain dengan menarik kesimpulan tentang, apa
yang mendasari atau melatarbelakangi perilaku tersebut. Heider 1958, Jones dan Davis
1965 (dalam Fisher, 1982:36) menyebutkan bahwa atribusi yakni cara – cara individu mengambil kesimpulan tentang karakteristik
stabil orang lain (seperti motif, sikap, kemampuan – kemampuan) hanya dengan
cara mengobservasi perilakunya. Menurut
pendapat penulis, sebelum manusia melakukan atribusi sosial, terlebih dahulu
manusia melakukan yang namanya persepsi sosial. Persepsi sosial adalah
cara-cara individu berfikir tentang orang lainnya. Ketika individu berinteraksi
dengan orang lain, hal itu berarti proses persepsi sosial sedang berlangsung.
Salah satu prinsip persepsi sosial adalah selectivity (penseleksian stimulus)
(Fisher…dalam Shinta, 2002). Tetapi
ada kalanya orang lain suatu waktu bersikap yang bukan merupakan sikap aslinya
dalam kata lain bisa dibilang bertopeng hanya karena agar orang tersebut ingin
dianggap baik oleh orang lain. Untuk mengetahui karakteristik orang lain dengan
mudah diperlukan adanya atribusi sosial yang mana atribusi sosial dapat
dibentuk karena banyak berinteraksi
dengan orang lain. misalnya kasir took swalayan yang tersenyum kepada semua
langganannya atau satpam yang mengusir anak-anak kampong, berperilaku seperti
itu karena tugasnya, bukan karena benar-benar ramah atau bengis.oleh karena itu
kita harus lebih cermat lagi mengamati perilaku orang lain. Nah, disitulah
dibutuhkan hubungan antara persepsi dan atribusi sosial.
Harlod Kelley dalam teorinya
juga menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang
menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau
memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley mengungkapkan
tentang salah satu factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik
kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari
dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh faktor dari luar diri. Kemudian
Fisher (1982:37) juga mencatat pendapat dari Jones dan Nisbett pada tahun
(1972) tentang sumbangan penting dari teori persepsi. Kedua peneliti itu
mengatakan bahwa peran individu dalam suatu situasi (baik sebagai perilaku
ataupun pengamat) merupakan penentu bagi jenis atribusi yang dibuat. Si
perilaku cenderung membuat perilaku berdasarkan persepsinya terhadap lingkungan
sekitar. Ia juga tahu bagaimana harus bertindak dalam situasi yang sama atau
yang berbeda. Sebagai ilustrasi penulis memberi Contoh sebagai berikut : santi adalah
siswa SMA yang kemampuan kognitifnya bagus sedangkan tasya juga siswa SMA yang
kemampuannya baik, keduanya sama – sama memiliki kepanpandaian, sama – sama
berprestasi, tetapi mereka tetap berbeda. Karena konsistensi santi berada pada hal-hal
yang pasti maka kemampuan santi yang menonjol di bidang hitungan, seperti
Matematika, dan Fisika. Berbeda dengan Tasya yang memiliki kemahiran dalam hal
IT hal itu dilatarbelakangi oleh usaha dan kesungguhan tasya pada bidang tersebut.
Dari kepandaian yang dimiliki oleh santi dan tasya maka dalam hal ini
terjadi interaksi antara keduanya dengan
pihak sekolah. Yang Sehingganya dengan konsistensi yang dilakukan mereka pada
bidangnya masing-masing, sudah jelas bahwa mereka (sinta dan tasya) memanglah benar-benar
siswa yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Hal ini dibuktikan oleh
hasil ujiannya yang setiap waktu selalu bagus, tidak pernah mendapat nilai
dibawah 8 selalu saja diatas rata-rata. perilaku yang dimiliki oleh tasya dan
santi yang telah membuktikan bahwasanya mereka berdua itu mempunyai kepandaian
dibidangnya masing-masing maka dibentukalah suatu kelompok yang diketuai oleh
mereka berdua. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan dari para guru
terhadap kemampuan yang dimiliki oleh santi dan tasya. Proses interaksi sosial
yang berupa persepsi sosial memiliki kontribusi terhadap konsistensi perilaku
individu. Konsistensi ini kerupakan bagian dari teori atribusi.
Berdasarkan hal diatas,
penulis memprediksikan jika kita menilai orang lain dari perilakunya saja maka
kita bisa saja akan terbodohi oleh topeng mereka dan agar kita dapat mengetahui
kesesuaian antara perilaku seseorang dan kepribadian yang sebenarnya seseorang
itu miliki, maka diperlukan suatu pengendalian dengan cara observasi yang bisa
berbentuk interaksi dan atribusi sosial, agar kita tidak terkecoh olek
kepura-puraan orang lain.