Benar-benar
kehabisan akal untuk tema artikel kali ini. Sudah lama berfikir, tetapi tetap
saja tidak ada ide yang mau ditulis. Setelah bosan berfikir tidak tahu kenapa
tiba-tiba saya ingin membaca kitab Ta’lim karangan (Syeih Al-Burhan)yang
diterjemahkan oleh syeih Umar Faruq, yang ada di rak buku samping tempat saya
duduk waktu itu. Ketika saya buka hal, 37 saya langsung memandangi baris kedua
dari atas yang berbunyi “man tholaba syaian wajadda wajada” yang artinya barang
siapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh-sungguh, maka pasti orang itu
menemukan sesuatu yang ia maksud”. Pada bagian tersebut saya berfikir semua
tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh.
Akhirnya saya optimis malam ini saya pasti bisa menulis artikel yang temanya
sudah ditentukanin oleh dosen saya, yaitu aktual.
Dalam tema kali ini saya akan membahas tentang
usaha dan keinginan yang tinggi. Saya berfikir kesuksesan itu berawal dari
keinginan yang tinggi dan membentuk suatu usaha yang akhirnya mendorong kita
untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang akhirnya membuahkan hasil yang
terbaik pula. Saya pernah mendengar cerita yang dalam hal itu diperani oleh
pendeta yang bernama “Ibnu Hajar”, dulu dia pernah nyantri di suatu tempat,
yang pada saat itu dia merupakan santri paling bodoh diantara teman-temannya
yang juga nyantri di tempat dia nyantri. Lalu Ibnu Hajar menyadari akan
kekurangan yang dia miliki itu, dia mempunyai keinginan yang tinggi untuk
membuang sifat bodohnya dengan usaha belajar semaksimal mungkin, akan tetapi
kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kegagalan telah
membuatnya berkecil hati, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti belajar
selama-lamanya. Setelah dia merasa tidak ada jalan untuk memecahkan masalahnya,
dia pergi ke suatu tempat yang dalam ceritanya ke sebuah gua, ketika itu dia
melihat batu keras yang bisa berlubang hanya karena ditetesi air hujan secara
terus menerus, disitu dia sadar jika seseorang menginginkan satu hal seseorang
itu harus mau berusaha lebih konisten lagi, tidak pernah takut terhadap
kegagalan karena tidak ada kata sia-sia jika kita mau bersunguh-sungguh dan
busaha. Seperti yang telah dikatakan oleh Imam Syafi’I bahwa “Kesungguhan dalam
melakukan suatu hal bisa mendekatkan sesuatu yang jauh, dan kesungguhan juga
bisa membuka setiap pintu-pintu yang terkunci”. Sebenarnya jika dikaji lagi,
Ibnu Hajar mendapatkan petunjuk itu bukan karena kebetulan, tetapi karena
keinginan dan usaha yang telah dia lakukan baru terjawab di hari itu.
Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn
Abdussalam dalam bukunya Qowa’id Al Ahkam. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan
(kepentingan), maka kita dituntut untuk menakar mana kepentingan yang lebih
utama untuk dilaksanakan. Jadi jangan mudah menyimpulkan bahwa apa yang kita
usahakan telah gagal dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi.
Rina Maulidah
0 komentar:
Posting Komentar