Minggu, 20 April 2014

Keunikan Merupakan salah satu Pertimbangan dalam Menarik Kesimpulan terhadap Perilaku Orang Lain

Untuk memahami secara jelas perilaku – perilaku manusia dalam berinteraksi sosial salah satunya dengan adanya atribusi sosial. Sedangkan makna dari atribusi sosial sendiri adalah memahami perilaku diri sendiri atau orang lain dengan menarik kesimpulan tentang, apa yang mendasari atau melatarbelakangi perilaku tersebut. Heider 1958, Jones dan Davis 1965 (dalam Fisher, 1982:36) menyebutkan bahwa atribusi yakni cara – cara individu mengambil kesimpulan tentang karakteristik stabil orang lain (seperti motif, sikap, kemampuan – kemampuan) hanya dengan cara mengobservasi perilakunya.  Menurut pendapat penulis, sebelum manusia melakukan atribusi sosial, terlebih dahulu manusia melakukan yang namanya persepsi sosial. Persepsi sosial adalah cara-cara individu berfikir tentang orang lainnya. Ketika individu berinteraksi dengan orang lain, hal itu berarti proses persepsi sosial sedang berlangsung. Salah satu prinsip persepsi sosial adalah selectivity (penseleksian stimulus) (Fisher…dalam Shinta, 2002). Tetapi ada kalanya orang lain suatu waktu bersikap yang bukan merupakan sikap aslinya dalam kata lain bisa dibilang bertopeng hanya karena agar orang tersebut ingin dianggap baik oleh orang lain. Untuk mengetahui karakteristik orang lain dengan mudah diperlukan adanya atribusi sosial yang mana atribusi sosial dapat dibentuk karena banyak  berinteraksi dengan orang lain. misalnya kasir took swalayan yang tersenyum kepada semua langganannya atau satpam yang mengusir anak-anak kampong, berperilaku seperti itu karena tugasnya, bukan karena benar-benar ramah atau bengis.oleh karena itu kita harus lebih cermat lagi mengamati perilaku orang lain. Nah, disitulah dibutuhkan hubungan antara persepsi dan atribusi sosial.

Harlod Kelley dalam teorinya juga menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley mengungkapkan tentang salah satu factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh faktor dari luar diri. Kemudian Fisher (1982:37) juga mencatat pendapat dari Jones dan Nisbett pada tahun (1972) tentang sumbangan penting dari teori persepsi. Kedua peneliti itu mengatakan bahwa peran individu dalam suatu situasi (baik sebagai perilaku ataupun pengamat) merupakan penentu bagi jenis atribusi yang dibuat. Si perilaku cenderung membuat perilaku berdasarkan persepsinya terhadap lingkungan sekitar. Ia juga tahu bagaimana harus bertindak dalam situasi yang sama atau yang berbeda. Sebagai ilustrasi penulis memberi Contoh sebagai berikut : santi adalah siswa SMA yang kemampuan kognitifnya bagus sedangkan tasya juga siswa SMA yang kemampuannya baik, keduanya sama – sama memiliki kepanpandaian, sama – sama berprestasi, tetapi mereka tetap berbeda. Karena konsistensi santi berada pada hal-hal yang pasti maka kemampuan santi yang menonjol di bidang hitungan, seperti Matematika, dan Fisika. Berbeda dengan Tasya yang memiliki kemahiran dalam hal IT hal itu dilatarbelakangi oleh usaha dan kesungguhan tasya pada bidang tersebut. Dari kepandaian yang dimiliki oleh santi dan tasya maka dalam hal ini terjadi interaksi antara keduanya  dengan pihak sekolah. Yang Sehingganya dengan konsistensi yang dilakukan mereka pada bidangnya masing-masing, sudah jelas bahwa mereka (sinta dan tasya) memanglah benar-benar siswa yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Hal ini dibuktikan oleh hasil ujiannya yang setiap waktu selalu bagus, tidak pernah mendapat nilai dibawah 8 selalu saja diatas rata-rata. perilaku yang dimiliki oleh tasya dan santi yang telah membuktikan bahwasanya mereka berdua itu mempunyai kepandaian dibidangnya masing-masing maka dibentukalah suatu kelompok yang diketuai oleh mereka berdua. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan dari para guru terhadap kemampuan yang dimiliki oleh santi dan tasya. Proses interaksi sosial yang berupa persepsi sosial memiliki kontribusi terhadap konsistensi perilaku individu. Konsistensi ini kerupakan bagian dari teori atribusi.

Berdasarkan hal diatas, penulis memprediksikan jika kita menilai orang lain dari perilakunya saja maka kita bisa saja akan terbodohi oleh topeng mereka dan agar kita dapat mengetahui kesesuaian antara perilaku seseorang dan kepribadian yang sebenarnya seseorang itu miliki, maka diperlukan suatu pengendalian dengan cara observasi yang bisa berbentuk interaksi dan atribusi sosial, agar kita tidak terkecoh olek kepura-puraan orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar