Selasa, 21 Oktober 2014

Air Mata Pulau Hantu

Rina Hartatik
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Saya adalah gadis yang di lahirkan di pulau Giliyang. Disini saya akan mengisahkan sedikit tentang pulau yang sering dikatakan Pulau Hantu. Bermula dari kisah seorang Ulama’ yang mewakafkan dirinya untuk membobot Giliyang menjadi sebuah pulau yang damai, sejahtera dan jauh dari gangguan para penjajah yang waktu itu disebut dengan Lanun. Pulau yang dulunya bernama Pulau Sere Elang itu sekarang sudah menjadi Pulau Giliyang. Giliyang merupakan salah satu kepulauan yang berada di Kabupaten Sumenep yang memiliki objek wisata dengan oksigen terbaik kedua sedunia. Dengan kenyataan itu, bersyukurlah warga yang tinggal di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep Madura. Karena dari hasil penelitian tim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN akhir Juli 2006 lalu, yang kemudian dilakukan kaji ulang pada 27 Desember 2011 lalu oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) Sumenep dan Jatim serta pihak Bappeda menunjukkan bahwa Pulau Giliyang satu-satunya pulau yang mempunyai oksigen terbaik di dunia sehingga sangat tepat bila kawasan itu dijadikan wisata kesehatan (Kabar Madura, 2012).
Untuk menuju Pulau Giliyang tidak sesulit seperti yang kita bayangkan. Berawal dari pelabuhan Dungkek nyebrang laut dengan menggunakan jasa perahu rakyat yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai transportasi laut setiap hari. Kondisi ombak yang bersahabat membuat warga setempat merasa aman beraktivitas. Warga yang menggunakan jasa transportasi perahu rakyat hanya dikenakan biaya sebesar Rp10.000 per orang selama kurang lebih 1 jam. Setelah tiba di Pulau Giliyang pemandangan dan suasananya berbeda. Selain airnya yang jernih dan kebiruan ditimbang air yang berada di pelabuhan dungkek, di Giliyang juga udaranya lebih sejuk karena disana mempunyai kadar Ogsigen terbaik kedua sedunia. Dari hasil penelitian Pulau Giliyang memiliki potensi alam yang sangat berguna bagi kesehatan.
Di pulau Giliyang terdapat 2 Desa, yaitu Desa Banraas dan Desa Bancamara. Dimana dalam masing-masing Desa tersebut terdapat beranekaragam wisata yang sangat menakjubkan diantaranya Ropet (pantai yang panoramanya sangat indah), Gua Air, To Cangghe (Batu Kundang) dan banyak wisata lain yang sangat mendukung untuk menjadikan Giliyang itu sebagai Pualu yang berpanorama indah. Giliyang juga merupakan Pulau kecil yang dikelilingi laut, maka dari itu kebanyakan penduduk Pulau Giliyang pekerjaannya manjadi Nelayan.
Batu Canggah
Beralih kepada kebudayaan di pulau saya tersebut, disana nikah muda merupakan salah satu kebudayaan yang terdapat di Pulau Giliyang. Banyak anak yang baru lulus SD, SMP, dan bahkan anak yang belum lulus SD pun sudah di nikahkan. Jika umurnya sudah sekitar 19.an tahun masih belum mempunyai pasangan maka mereka (para penduduk) yang berada di Pulau Giliyang akan mengatakan bahwa orang tersebut tidak laku. Dan hal yang seperti itu yang menjadikan para orang tua dari anak cenderung menjodohkan anaknya sejak masih usia dini. Berbicara masalah sistem perjodohan yang ada di Pulau Saya tersebut mengingatkan saya pada kejadian 3 tahun yang lalu, dimana waktu itu awal pertama saya mengenal dengan yang namanya paksaan. Paksaan karena harus menerima orang yang sama sekali tidak saya kenal sebagai tunangan saya. Hal yang menjadi beban buat saya bukan karena saya di tunanganin waktu usia dini, tapi karena satu alasan yaitu takut saya harus berhenti mengenyam pendidikan karena masalah tersebut. Tapi tuhan itu maha mendengar, maha tahu apa yang menjadi keinginan hamba-hambanya. Akhirnya saya putus dengan tunangan saya, disitu juga awal saya merasakan kebebasan.
Kalau dilihat dari sisi wisata kesehatan, Pulau saya itu tidak ada duanya di seluruh dunia. Kalau promosi dan fasilitas pendukung sudah bagus, bukan tidak mungkin akan banyak turis asing yang mencari Pulau saya tersebut. Selain harus memperbaiki sarana pelabuhan yang ada di pulau tempat saya itu semua infrastruktur juga harus dibangun. Seperti yang telah saya ketahui bahwa hampir semua jalan utama di Pulau saya tersebut dalam keadaan rusak. Meskipun sudah diaspal, jalan-jalan utama ini cepat mengelupas dan berganti menjadi jalan berbatu. Selain itu ada lagi hal yang sangat menykitkan yaitu karena penduduk ditempat saya hanya mengandalkan dua pembangkit listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). PLTD itupun yang dikelola oleh swasta hanya menyediakan lampu selama 6 jam sehari semalam yaitu dari pukul 18.00 sampai 00.00. Sayangnya PLTB sudah tidak berfungsi lagi, meskipun kincir angin pembangkit listrik di pulau tempat kelahiran saya tersebut masih ada sampai sekarang. Enam buah tower penyangga kincir angin juga masih berdiri kokoh. Entah kenapa kini kincir angin itu tidak difungsikan lagi dan penduduk hanya berharap pada PLTD. Ketika terdapat permasalahan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel itu maka terpaksa seluruh penduduk Pulau Giliyang, baik itu Desa Bancamara ataupun Desa Banraas harus menggunakan “Damar Conglet” dalam istilah maduranya. Yang mana damar conglet itu hanya mampu menerangi tempat sekitar 1 meter saja.
Sejarah tentang Giliyang yang dinamakan Pulau Hantu itu karena sebelum masuk pembangkit listrik PLTD dan PLTB, pulau kelahiran saya tersebut adalah pulau yang sangat menyeramkan. Kenapa bsaya mengatakan seperti itu ? Karena hampir keseluruhan penduduk Giliyang tidak menggunakan lampu yang ada hanya Damar Conglet pada waktu itu, kelihatannya sangat menyeramkan karena cahaya lampu hanya ada ketika kita melihat rumah-rumah orang kaya saja. Seandainya pulau saya tersebut bisa mengeluarkan air mata layak manusia, maka saya yakin pulau saya adalah pulau yang sangat banyak mengeluarkan air mata ketimbang wilayah-wilayah lainnya jika melihat daerahnya yang kurang diperhatikan oleh mereka yang seharusnya membangun dan menyamaratakan fasilitas di pulau saya itu dengan daerah perkotaan yang ada di Negeri Indonesia ini.

0 komentar:

Posting Komentar