Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
yogyakarta
Istilah
pertumbuhan dan “perkembangan” sering digunakan secara bergantian. Dalam
kenyataannya, kedua isilah itu berbeda, walaupun dapat dipisahkan namun
keduanya tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan peningkatan ukuran
dan struktur. Dan sebaliknya, perkembangan berkaitan dengan perubahn kualitatif
dan kuantitatif. Perkembangan dapat didefinisikan sebagai rangkaian progresif
dari perubahan yang teratur. “progresif” menandai bahwa perubahannya terarah,
membimbing untuk maju. “teratur” menunjukkan adanya hubungan nyata antara
perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului maupun yang akan mengikutinya.
Dalam
buku di jelaskan bahwa faktor internal dan faktor eksternal akan dapat
mempengaruhi kecepetan dan sifat atau kualitas perkembangan, (Elizabeth B.
Hurlock). Tetapi sejauh mana pengaruh masing-masing faktor sukar untuk
ditentukan. Dan salah satu faktor umum yang akan menjadi pembahasan dalam
penulisan artikel ini ialah “Intelegensi”. Intelegensi merupakan faktor yang
penting dalam perkembangan. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan
yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam
pertumbuhan dan perkembangan.
Sebelum
perekembangan anak siap untuk melakukan sesuatu, mereka tidak dapat belajar
meskipun diberikan banyak rangsangan. Misalnya bila anak belum siap untuk
belajar, maka upaya mengajar guru hanya membuang-buang waktu dan tidak ada
gunanya. Hal itu justru akan menimbulkan perilaku yang tidak diinginkan, seperti
belajar kebiasaan buruk atau tidak ingin belajar. Sebaliknya, jika anak telah
siap untuk belajar tapi tidak diijinkan atau tidak di dorong untuk melakukannya,
maka minat mereka akan hilang. Kemudian apabila orang tua atau guru memutuskan
bahwa telah tiba saatnya untuk belajar, mereka tidak mau lagi berusaha. Menurut
Haviaghurst, “ketika badan sudah matang, masyarakat memintanya dan dirinya
telah siap untuk menerima tugas tertentu maka saat diajar telah tiba. Usaha
pengajaran akan terbuang percuma bila dilakukan sebelumnya dan akan membuahkan
hasil yang memuaskan bila dilakukan pada saat yang tepat, ketika tugas memang
harus dipelajari”.
Ketika
terdapat permasalahan seperti diatas, akan dapat diprediksikan bahwa anak akan
mengalami ketidak maksimalan dalam belajar dan ketidak puasan dalam perolehan belajar ketika masa belajarnya
tersebut tidak sesuai dengan kesiapan anak untuk belajar. Maka sebagai
pengendalian dalam permasalahan tersebut. Orang tua atau guru sebagai orang
yang paling akrab dengan anak harus mengetahui kapan anak tersebut mulai siap
untuk belajar. Hal itu dapat di ketahui dengan tiga hal, yaitu :
a.
Minat belajar
b.
Minat yang bertahan
c.
Kemajuan
Jadi,
bila berkurangnya minat berlangsung cepat, atau anak tidak menampakkan kemajuan
yang cukup meskipun terus berlatih, cukup beralasan untuk mempertanyakan apakah
telah tiba saatnya untuk belajar.
Daftar
Pustaka :
Sumanto. (2013).
Psikologi Perkembangan Sepenjang Rentang Kehidupan. Yogyakarta: Program Pasca
Sarjana STII Yogyakarta.
0 komentar:
Posting Komentar