Selasa, 21 Oktober 2014

“Pentingnya Kesiapan dan Kematangan Belajar Anak”

Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
yogyakarta
Istilah pertumbuhan dan “perkembangan” sering digunakan secara bergantian. Dalam kenyataannya, kedua isilah itu berbeda, walaupun dapat dipisahkan namun keduanya tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan peningkatan ukuran dan struktur. Dan sebaliknya, perkembangan berkaitan dengan perubahn kualitatif dan kuantitatif. Perkembangan dapat didefinisikan sebagai rangkaian progresif dari perubahan yang teratur. “progresif” menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing untuk maju. “teratur” menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului maupun yang akan mengikutinya.
Dalam buku di jelaskan bahwa faktor internal dan faktor eksternal akan dapat mempengaruhi kecepetan dan sifat atau kualitas perkembangan, (Elizabeth B. Hurlock). Tetapi sejauh mana pengaruh masing-masing faktor sukar untuk ditentukan. Dan salah satu faktor umum yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan artikel ini ialah “Intelegensi”. Intelegensi merupakan faktor yang penting dalam perkembangan. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Sebelum perekembangan anak siap untuk melakukan sesuatu, mereka tidak dapat belajar meskipun diberikan banyak rangsangan. Misalnya bila anak belum siap untuk belajar, maka upaya mengajar guru hanya membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Hal itu justru akan menimbulkan perilaku yang tidak diinginkan, seperti belajar kebiasaan buruk atau tidak ingin belajar. Sebaliknya, jika anak telah siap untuk belajar tapi tidak diijinkan atau tidak di dorong untuk melakukannya, maka minat mereka akan hilang. Kemudian apabila orang tua atau guru memutuskan bahwa telah tiba saatnya untuk belajar, mereka tidak mau lagi berusaha. Menurut Haviaghurst, “ketika badan sudah matang, masyarakat memintanya dan dirinya telah siap untuk menerima tugas tertentu maka saat diajar telah tiba. Usaha pengajaran akan terbuang percuma bila dilakukan sebelumnya dan akan membuahkan hasil yang memuaskan bila dilakukan pada saat yang tepat, ketika tugas memang harus dipelajari”.
Ketika terdapat permasalahan seperti diatas, akan dapat diprediksikan bahwa anak akan mengalami ketidak maksimalan dalam belajar dan ketidak puasan dalam   perolehan belajar ketika masa belajarnya tersebut tidak sesuai dengan kesiapan anak untuk belajar. Maka sebagai pengendalian dalam permasalahan tersebut. Orang tua atau guru sebagai orang yang paling akrab dengan anak harus mengetahui kapan anak tersebut mulai siap untuk belajar. Hal itu dapat di ketahui dengan tiga hal, yaitu :
a.    Minat belajar
b.    Minat yang bertahan
c.    Kemajuan
Jadi, bila berkurangnya minat berlangsung cepat, atau anak tidak menampakkan kemajuan yang cukup meskipun terus berlatih, cukup beralasan untuk mempertanyakan apakah telah tiba saatnya untuk belajar.          

Daftar Pustaka :

Sumanto. (2013). Psikologi Perkembangan Sepenjang Rentang Kehidupan. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana STII Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar