Selasa, 21 Oktober 2014

“ Levels of Personality Analysis ”

Rina hartatik
13.310410.1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakrta

Pembahasan mengenai kepribadian merupakan pembahasan paling menarik selama saya menulis artikel di kelas Psikologi Umum ini. Dala kesempatan kali ini, pertama saya akan membahas mengenai persepsi antara orang awam dan ilmiyah mengenai kepribadian itu sendiri. Orang awam mendefinisikan kepribadian itu sebagai topeng atau suatu sifat dan penampilan yang indah dinilai oleh norma sosial. Sedangkan kepribadian secara ilmiah adalah karakter individu yang membedakan antara individu satu dengan individu yang lainnya. Allport 1961(dalam King, L. A. 2010) juga mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikho phisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Jadi cara individu bertingkah laku terhadap lingkungan sekitar, yang terlihat dari kebiasaan2 berpikir, sikap, minat, & pandangan hidup yang khas itulah yang dikatakan sebagai personality.
Jika kita simpulkan dari berbagai pengertian mengenai kepribadian diatas maka kita akan memahami bahwa kepribadian itu merupakan salah satu penentu yang khas atas perilaku setiap individu, yang sehingganya kita dapat membedakan antara individu yang satu dengan individu lain. sesuai dengan judul artikel saya “ Tingkat Analisis Kepribadian “ disitu menerangkan bahwa dalam beberapa hal kita sama dengan semua orang. Sebagai bukti, sekarang kita berada di kelas ini karena kita mempunyai keinginan yang sama yaitu ingin memperluas pengalaman kita mengenai mata kuliah Psikologi Umum.  Dalam hal yang seperti ini kita sama-sama didorong oleh keinginan yang besar, akhirnya kita mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, masuk tepat waktu, dan kita juga sama-sama mendengarkan penjelasan dosen. Walaupun demikian, tidak selamanya kita adalah pribadi yang sama karena Dalam beberapa hal kita sama dengan beberapa / sebagian orang. dalam tingkatan analisis kepribadian ini lebih mengkelompokkan tidak bersifat umum seperti tingkatan anlisis yang pertama. Misalnya seorang ekstrover pada suatu pesta besar akan merasa lebih bahagia daripada seorang yang berkepribadian introver pada pesta yang sama, namun keduanya tidak akan berbeda kebahagian selagi menghadiri suatu kelas untuk mendengarkan kuliah. Penjelasan temperamental keduanya mengatakan bahwa extroversion dan efek positif sangat terkait bahkan dalam situasi netral. Penjelasan ini menyatakan bahwa oranng-orang ekstrover membawa segembok suasana hati kemanapun dia pergi dan apapun yang dia lakukan (Lucas, 2007). Jadi kita yang senantiasa membawa suasana hati kemanapun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, dan ketika hal itu juga terdapat pada diri orang lain maka disitu kita sama dengan sebagian orang yang berkepribadian ekstrover. Pembahasan mengenai tingkatan yang pertama dan yang kedua sudah kita bahas diatas, sekarang tinggal pembahasan yang ketiga yaitu dalam beberapa hal, kita tidak sama dengan semua orang à kita adalah pribadi yang unik. Pembahasan yang terakhir ini lebih spesifik dari pada tingkatan analisis yang pertama dan yang kedua. Kata unik berartimenggambarkan bahwa setiap individu mempunyi cirri khas masing-masing. sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Tidak ada individu yang berkepribadian sama, karena tidak ada juga individu yang bertingkah laku sama. Sebagai contoh dari tingkatan analisis yang ketiga ini ialah seorang sastrawan yang sering menyendiri yang dianggap aneh oleh banyak orang tetapi dia merasa nyaman dengan  perilakunya yang aneh tersebut, nah perilaku itulah yang menjadikannya unik karena dengan perilakunya tersebut dia akan beda dengan yang lainnya.
Dari pembahasan diatas penulis memprediksikan bahwa apabila kita menemukan seseorang yang berperilaku berbeda dengan perilaku kebanyakan orang atau sekelompok orang jangan menganggap kalau orang tersebut sedang mengalami kelainan jiwa “stress” akan tetapi itulah keunikan yang dimiliki oleh orang tersebut. Dan apabila kita menjumpai seseorang yang tidak konsisten dalam menyikapi situasi yang berbeda-beda, dengan kejadian yang seperti itu jangan langsung memvonis bahwa orang tersebut bertopeng atau berperilaku palsu melainkan orang tersebut menyesuaikan perilakunya agar sesuai dengan situasi tertentu. Sebagai pengendalian permasalahan dari prediksi diatas penulis menyumbangkan teori Mischel (1968) yang mengatakan bahwa kepribadian bervariasi sepanjang situasi. Dan juga teori Allport (1961) yang  mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikho phisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.


0 komentar:

Posting Komentar