Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
yogyakarta
Chaplin berpendapat bahwa definisi
mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari
berbagai orientasi. Namun demikian dapat dikemukakan atas general agreement
bahwa emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan
derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan
dengan perasaan yang kuat.
Salah satu pengendali kematangan emosi
adalah pengetahuan yang mendalam mengenai emosi itu sendiri. Banyak orang tidak
tahu menahu mengenai emosi atau besikap negatif terhadap emosi karena kurangnya
pengetahuan akan aspek ini. Seorang anak yang terbiasa dididik orang tuanya
untuk tidak boleh menangis, tidak boleh terlalu memakai perasaan akhirnya akan
membangun kerangka berpikir bahwa perasaan, memang sesuatu yang negatif dan
oleh karena itu harus dihindari.
Emosilah yang seringkali
menghambat orang tidak melakukan perubahan. Ada perasaan takut dengan yang akan
terjadi, ada rasa cemas, ada rasa khwatir, ada pula rasa marah karena adanya
perubahan. Hal tersebut itulah yang seringkali menjelaskan mengapa orang tidak
mengubah polanya untuk berani mengikuti jalur-jalur menapaki jenjang
kesuksesan. Hal ini sekaligus pula menjelaskan pula mengapa banyak orang yang
sukses yang akhirnya terlalu puas dengan kondisinya, selanjutnya takut
melangkah. Akhirnya menjadi orang yang gagal.
Emosi itu pada dasarnya terbagi
menjadi dua yaitu emosi positif dan emosi negatif. Contoh emosi positif adalah
bahagia, damai, tenang dan perasaan positif lainnya. Sedangkan contoh emosi
negatif adalah marah, sedih, benci, jengkel, atau perasaan yang dapat
mengganggu lainnya. Pada dasarnya semua orang tentu harus memiliki emosi
positif ataupun negatif, hanya saja pada proses kehidupan kita, kita harus
lebih mengembangkan emosi positif dan mengelola emosi negatif agar tidak
merusak.
Menurut Ekman dan Friesen
(Carlson, 1987) bahwa emosi ada rules yaitu: masking, madulation, dan
simulation. Disini saya akan mengambil contoh dari modulation yang menjelaskan
bahwa orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya,
tetapi hanya dapat mengurangi saja. Contoh, seorang anak dengan suasana hati
tidak tenang, akan menolak untuk makan bersama keluarga, walaupun disajikan
makanan yang sangat enak. Demikian juga, jika siswa mengikuti pembelajaran di
kelas dengan ‘hati yang tidak tenteram’. Kosentrasi siswa tersebut besar
kemungkinan akan terganggu sehingga materi pelajaran menjadi tidak bermakna,
bahkan ia cenderung ingin segera pelajaran berakhir. Siswa seperti ini ingin
segera bermain atau beraktifitas tanpa suatu aturan, beraktifitas secara tidak
formal. Karena dengan demikian, ia akan merasa bebas dari suasana hati yang
kacau. Akan tetapi sekalipun kejadiannya seperti itu anak tersebut tidak akan
menampakkan kejengkelannya pada guru pengajar.
Tak terhitung lagi orang yang
merasa menyesal karena mereka tidak bisa mengendalikan amarahnya. Biasanya,
orang yang tidak dapat mengendalikan amarah, cenderung melukai perasaan orang
lain, dan bahkan melukai secara fisik. Sebagai bentuk pengndaliannya penulis
memberikan solusi bahwa semua orang pasti mengalami yang namanya emosi, tapi
disitu kita harus memiliki control diri yang kuat sehingga tidak menyakiti orang lain terutama orang
terdekat kita. Pikir lagi konsekuensi dari amarahmu. Bereaksi-lah terhadap
masalah dengan tegas tanpa mengurangi arti sebenarnya dari kata-katamu. Jika
kamu sudah terlanjur mengeluarkan amarahmu secara berlebihan, minta maaflah
dengan tulus, dan katakan tujuanmu yang sebenarnya
Daftar
Pustaka :
Walgito,
B. (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: penerbit ANDI OFFSET.
0 komentar:
Posting Komentar