Selasa, 21 Oktober 2014

Mengatasi Emosi dan Marah yang Berlebihan

Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
yogyakarta
Chaplin berpendapat bahwa definisi mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari berbagai orientasi. Namun demikian dapat dikemukakan atas general agreement bahwa emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.
Salah satu pengendali kematangan emosi adalah pengetahuan yang mendalam mengenai emosi itu sendiri. Banyak orang tidak tahu menahu mengenai emosi atau besikap negatif terhadap emosi karena kurangnya pengetahuan akan aspek ini. Seorang anak yang terbiasa dididik orang tuanya untuk tidak boleh menangis, tidak boleh terlalu memakai perasaan akhirnya akan membangun kerangka berpikir bahwa perasaan, memang sesuatu yang negatif dan oleh karena itu harus dihindari.
Emosilah yang seringkali menghambat orang tidak melakukan perubahan. Ada perasaan takut dengan yang akan terjadi, ada rasa cemas, ada rasa khwatir, ada pula rasa marah karena adanya perubahan. Hal tersebut itulah yang seringkali menjelaskan mengapa orang tidak mengubah polanya untuk berani mengikuti jalur-jalur menapaki jenjang kesuksesan. Hal ini sekaligus pula menjelaskan pula mengapa banyak orang yang sukses yang akhirnya terlalu puas dengan kondisinya, selanjutnya takut melangkah. Akhirnya menjadi orang yang gagal. 
Emosi itu pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu emosi positif dan emosi negatif. Contoh emosi positif adalah bahagia, damai, tenang dan perasaan positif lainnya. Sedangkan contoh emosi negatif adalah marah, sedih, benci, jengkel, atau perasaan yang dapat mengganggu lainnya. Pada dasarnya semua orang tentu harus memiliki emosi positif ataupun negatif, hanya saja pada proses kehidupan kita, kita harus lebih mengembangkan emosi positif dan mengelola emosi negatif agar tidak merusak.
Menurut Ekman dan Friesen (Carlson, 1987) bahwa emosi ada rules yaitu: masking, madulation, dan simulation. Disini saya akan mengambil contoh dari modulation yang menjelaskan bahwa orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi hanya dapat mengurangi saja. Contoh, seorang anak dengan suasana hati tidak tenang, akan menolak untuk makan bersama keluarga, walaupun disajikan makanan yang sangat enak. Demikian juga, jika siswa mengikuti pembelajaran di kelas dengan ‘hati yang tidak tenteram’. Kosentrasi siswa tersebut besar kemungkinan akan terganggu sehingga materi pelajaran menjadi tidak bermakna, bahkan ia cenderung ingin segera pelajaran berakhir. Siswa seperti ini ingin segera bermain atau beraktifitas tanpa suatu aturan, beraktifitas secara tidak formal. Karena dengan demikian, ia akan merasa bebas dari suasana hati yang kacau. Akan tetapi sekalipun kejadiannya seperti itu anak tersebut tidak akan menampakkan kejengkelannya pada guru pengajar.
Tak terhitung lagi orang yang merasa menyesal karena mereka tidak bisa mengendalikan amarahnya. Biasanya, orang yang tidak dapat mengendalikan amarah, cenderung melukai perasaan orang lain, dan bahkan melukai secara fisik. Sebagai bentuk pengndaliannya penulis memberikan solusi bahwa semua orang pasti mengalami yang namanya emosi, tapi disitu kita harus memiliki control diri yang kuat sehingga  tidak menyakiti orang lain terutama orang terdekat kita. Pikir lagi konsekuensi dari amarahmu. Bereaksi-lah terhadap masalah dengan tegas tanpa mengurangi arti sebenarnya dari kata-katamu. Jika kamu sudah terlanjur mengeluarkan amarahmu secara berlebihan, minta maaflah dengan tulus, dan katakan tujuanmu yang sebenarnya
Daftar Pustaka :
Walgito, B. (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: penerbit ANDI OFFSET.


0 komentar:

Posting Komentar