Selasa, 21 Oktober 2014

Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pemberian bantuan menyelesaikan masalah gangguan jiwa, atau sering disebut konsultasi jiwa dan istilah lainnya disebut konseling, akhir-akhir ini telah menjadi salah satu pelayanan yang sangat dirasakan perlu dan penting di Negara kita ini.
Makna dari konseling sendiri adalah suatu proses yang berorientasikan belajar, yang dilakukan dalam lingkungan sosial yang sederhana dari orang ke seorang dimana seorang konselor yang berwenang secara professional dalam pengetahuan dan keahlian psikologis mencoba membantu klien dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan klien dan dalam hubungan dari program personalia untuk mengetahui lebih banyak mengenal diri klien untuk belajar bagaimana menggunakan pengertiannya dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan yang ditetapkan secara wajar dan dihayati secara lebih jelas hingga akhirnya klien dapat menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif dan bahagia (Gustad, 1953).
Jika kita simpulkan dari definisi Gustad diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagaimana yang telah dicantumkan di buku, bahwa ciri-ciri konseling itu adalah sebagai berikut :
a.    Interaksi antara klien dan konselor. Dalam hal ini saya akan menjelaskan mengenai interaksi antara guru dan siswa dan orang tua siswa.
b.    Datangnya klien karena disebabkan frustasi, misalnya orang tua yang mendatangi guru BK, untuk menanyakan perkembangan anaknya di sekolah, karena anaknya telah mengalami penurunan prestasi.
c.    Seorang konselor harus orang yang berpengetahuan dan professional dalam bidang konseling. Sudah jelas dalam contoh yang akan saya jelaskan, guru BK di sekolah SD dari siswa tersebut adalah lulusan S1 Bk.
d.    Tujuan konseling menolong klien untuk menerima kenyataan yang ada sekaligus mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Guru menjadi konselor atas permasalahan siswa tersebut karena untuk menolong perkembangan siswanya kedepannya.
e.    Dalam proses konseling harus bahan pembicaraannya seharusnya lebih mengarah pada hal-hal yang positif. Dari beberapa masalah yang di hadapi siswa kelas V, guru BK sebagai konselor senantiasa memberikan pengarahan dan pendekatan agar membangkitkan semangat siswanya berkobar kembali. Selain itu konselor juga memberi arahan kepada orang tua siswa untuk memperketat pergaulan anaknya agar tidak menggangu aktivitas belajar anaknya tersebut.
Berkaitan dengan penyajian materi layanan Konseling Perorangan, pada kesempatan ini saya menjelaskan tentang masalah-masalah siswa yang mungkin masih bisa ditangani oleh Guru Kelas, prosedur penanganan siswa bermasalah dan beberapa teknik umum layanan konseling perorangan beserta pengadministrasiannya.
Sesungguhnya, proses pendidikan di SD selama ini memang sudah sangat kental dengan warna bimbingan, melalui sistem pola asuhnya yang khas antara Guru Kelas dengan siswanya. Misalnya, menginformasikan tentang kelanjutan studi, melatih kebiasaan belajar yang baik, mengatur posisi duduk siswa, dan sebagainya, baik dilaksanakan secara perorangan, ataupun kelompok. Dengan demikian, aplikasi konsep Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar pada dasarnya bukan hal yang baru. Dalam konteks ini yang perlu ditingkatkan adalah segi intensitas dan kualitas pelayanannya serta dapat lebih fokus pada upaya pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa.
Pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa SD mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkannya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Contoh, Bunga adalah siswa kelas V SD yang berumur 11 tahun, Bapaknya adalah seorang pensiunan Gudang Garam, Ibunya buka warung di rumah. Dia adalah anak keempat dari 4 bersaudara. Dia termasuk anak yang pandai. Dia merupakan salah satu anak yang mengalami penurunan prestasi belajar. Pada saat kelas 1 dia mendapat peringkat 1 di kelasnya berlanjut sampai kelas 3 tapi pada saat kelas 4 dia mengalami penurunan prestasi, menjadi peringkat 10 besar sampai kelas 5 sekarang ini. Dari penurunan prestasi belajar tersebut, orang tua Bunga sudah menganjurkan kepada Bunga agar bersedia mengikuti les tapi Bunga mengeluh karena tempat les yang dianjurkan oleh orang tuanya tersebut melewati atau menyeberang jalan raya dan Bunga juga meminta agar dia dicarikan tempat les lain yang lebih dekat, lebih nyaman, dan tidak perlu menyeberang jalan raya. Dan timbul satu permasalahan lagi, yaitu ketika belajar, Bunga tidak pernah mau belajar di luar kamar, dia selalu belajar di dalam kamar. Dan ketika dicek oleh orang tuanya, dia memang sedang belajar. Namun pertanyaanya, apakah Bunga benar-benar belajar, ataukah dia hanya berpura-pura belajar dan melakukan hal lain di luar pengawasan orang tuanya??
Tapi disisi lain, berdasarkan informasi dari guru Bunga, sikap Bunga saat di kelas:
a.      Baik
b.      Aktif bertanya jika kurang jelas
c.      Aktif menjelaskan kepada teman-temannya
d.      Nyambung saat diajak berbicara
e.      Tapi juga kurang teliti

  Dari keterangan yang telah berhasil penulis kumpulkan, penulis memperkirakan bahwa masalah yang dihadapi oleh Bunga bersumber dari dalam diri Bunga sendiri. Sebenarnya Bunga itu siswa yang pandai tetapi dia kurang bisa mengontrol dirinya. Perkiraan ini penulis buat karena dari pihak keluarga, Bunga telah dididik dengan baik. Kemungkinan Bunga mengalami kejenuhan terhadap cara belajar, dan materi pelajaran di sekolahnya, disamping itu Bunga juga telah mengalami ketertarikan terhadap lawan jenisnya.
Setelah melakukan diagnosis, sebagai pengendalian seharusnya konselor melakukan pendekatan kepada Bunga dan berusaha memberikan motivasi untuk mengembalikan semangat belajarnya, serta memberi arahan kepada orang tuanya agar sedikit mengurangi kebebasan Bunga untuk terlalu sering bermain.
Beberapa kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi Bunga bisa diselesaikan, yaitu:
a.    Bunga akan kembali bersemangat dalam belajar
b.     Prestasi Bunga kembali meningkat
c.    Bunga akan lebih berkonsentrasi dalam menerima materi pelajaran




Daftar Pustaka :

Sudarman. (1988). Psikologi Konseling. Yogyakarta : Percetakan Studing.
     




0 komentar:

Posting Komentar