Rina Hartatik
13-1037
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pemberian bantuan menyelesaikan
masalah gangguan jiwa, atau sering disebut konsultasi jiwa dan istilah lainnya
disebut konseling, akhir-akhir ini telah menjadi salah satu pelayanan yang
sangat dirasakan perlu dan penting di Negara kita ini.
Makna dari konseling sendiri
adalah suatu proses yang berorientasikan belajar, yang dilakukan dalam
lingkungan sosial yang sederhana dari orang ke seorang dimana seorang konselor
yang berwenang secara professional dalam pengetahuan dan keahlian psikologis
mencoba membantu klien dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan klien dan
dalam hubungan dari program personalia untuk mengetahui lebih banyak mengenal
diri klien untuk belajar bagaimana menggunakan pengertiannya dalam hubungannya
dengan tujuan-tujuan yang ditetapkan secara wajar dan dihayati secara lebih
jelas hingga akhirnya klien dapat menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif
dan bahagia (Gustad, 1953).
Jika kita simpulkan dari definisi
Gustad diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagaimana yang telah dicantumkan di
buku, bahwa ciri-ciri konseling itu adalah sebagai berikut :
a.
Interaksi antara klien dan
konselor. Dalam hal ini saya akan menjelaskan mengenai interaksi antara guru
dan siswa dan orang tua siswa.
b. Datangnya
klien karena disebabkan frustasi, misalnya orang tua yang mendatangi guru BK,
untuk menanyakan perkembangan anaknya di sekolah, karena anaknya telah mengalami
penurunan prestasi.
c. Seorang
konselor harus orang yang berpengetahuan dan professional dalam bidang
konseling. Sudah jelas dalam contoh yang akan saya jelaskan, guru BK di sekolah
SD dari siswa tersebut adalah lulusan S1 Bk.
d. Tujuan
konseling menolong klien untuk menerima kenyataan yang ada sekaligus
mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Guru menjadi konselor atas
permasalahan siswa tersebut karena untuk menolong perkembangan siswanya
kedepannya.
e.
Dalam proses konseling harus bahan
pembicaraannya seharusnya lebih mengarah pada hal-hal yang positif. Dari
beberapa masalah yang di hadapi siswa kelas V, guru BK sebagai konselor
senantiasa memberikan pengarahan dan pendekatan agar membangkitkan semangat
siswanya berkobar kembali. Selain itu konselor juga memberi arahan kepada orang
tua siswa untuk memperketat pergaulan anaknya agar tidak menggangu aktivitas
belajar anaknya tersebut.
Berkaitan
dengan penyajian materi layanan Konseling Perorangan,
pada kesempatan ini saya menjelaskan tentang masalah-masalah siswa yang mungkin
masih bisa ditangani oleh Guru Kelas, prosedur penanganan siswa bermasalah dan
beberapa teknik umum layanan konseling perorangan beserta
pengadministrasiannya.
Sesungguhnya,
proses pendidikan di SD selama ini memang sudah sangat kental dengan warna
bimbingan, melalui sistem pola asuhnya yang khas antara Guru Kelas dengan
siswanya. Misalnya, menginformasikan tentang kelanjutan studi, melatih
kebiasaan belajar yang baik, mengatur posisi duduk siswa, dan sebagainya, baik
dilaksanakan secara perorangan, ataupun kelompok. Dengan demikian, aplikasi
konsep Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar pada dasarnya bukan hal yang
baru. Dalam konteks ini yang perlu ditingkatkan adalah segi intensitas dan
kualitas pelayanannya serta dapat lebih fokus pada upaya pencapaian tugas-tugas
perkembangan siswa.
Pelayanan bimbingan dan konseling
membantu siswa SD mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai
pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkannya untuk melanjutkan pendidikan pada
tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Contoh, Bunga adalah siswa kelas V SD
yang berumur 11 tahun, Bapaknya adalah seorang pensiunan Gudang Garam, Ibunya
buka warung di rumah. Dia adalah anak keempat dari 4 bersaudara. Dia termasuk
anak yang pandai. Dia merupakan salah satu anak yang mengalami penurunan
prestasi belajar. Pada saat kelas 1 dia mendapat peringkat 1 di kelasnya
berlanjut sampai kelas 3 tapi pada saat kelas 4 dia mengalami penurunan
prestasi, menjadi peringkat 10 besar sampai kelas 5 sekarang ini. Dari
penurunan prestasi belajar tersebut, orang tua Bunga sudah menganjurkan kepada
Bunga agar bersedia mengikuti les tapi Bunga mengeluh karena tempat les yang
dianjurkan oleh orang tuanya tersebut melewati atau menyeberang jalan raya dan
Bunga juga meminta agar dia dicarikan tempat les lain yang lebih dekat, lebih
nyaman, dan tidak perlu menyeberang jalan raya. Dan timbul satu permasalahan
lagi, yaitu ketika belajar, Bunga tidak pernah mau belajar di luar kamar, dia
selalu belajar di dalam kamar. Dan ketika dicek oleh orang tuanya, dia memang
sedang belajar. Namun pertanyaanya, apakah Bunga benar-benar belajar, ataukah
dia hanya berpura-pura belajar dan melakukan hal lain di luar pengawasan orang
tuanya??
Tapi
disisi lain, berdasarkan informasi dari guru Bunga, sikap Bunga saat di kelas:
a.
Baik
b.
Aktif
bertanya jika kurang jelas
c.
Aktif
menjelaskan kepada teman-temannya
d.
Nyambung
saat diajak berbicara
e.
Tapi
juga kurang teliti
Dari keterangan yang telah
berhasil penulis kumpulkan, penulis memperkirakan bahwa masalah yang dihadapi
oleh Bunga bersumber dari dalam diri Bunga sendiri. Sebenarnya Bunga itu siswa
yang pandai tetapi dia kurang bisa mengontrol dirinya. Perkiraan ini penulis
buat karena dari pihak keluarga, Bunga telah dididik dengan baik. Kemungkinan
Bunga mengalami kejenuhan terhadap cara belajar, dan materi pelajaran di
sekolahnya, disamping itu Bunga juga telah mengalami ketertarikan terhadap
lawan jenisnya.
Setelah
melakukan diagnosis, sebagai pengendalian seharusnya konselor melakukan pendekatan
kepada Bunga dan berusaha memberikan motivasi untuk mengembalikan semangat
belajarnya, serta memberi arahan kepada orang tuanya agar sedikit mengurangi
kebebasan Bunga untuk terlalu sering bermain.
Beberapa
kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi Bunga bisa diselesaikan,
yaitu:
a.
Bunga
akan kembali bersemangat dalam belajar
b. Prestasi Bunga kembali meningkat
c.
Bunga
akan lebih berkonsentrasi dalam menerima materi pelajaran
Daftar
Pustaka :
Sudarman.
(1988). Psikologi Konseling. Yogyakarta : Percetakan Studing.
0 komentar:
Posting Komentar