Hati
dalam bahasa al-qur’an adalah qalbu yang artinya berubah. Ada yang mengatakan
tidak dikatakan hati kalau tidak berubah-ubah. Manusia adalah makhluk ciptaan
tuhan yang dalam hidupnya di pimpin oleh segumpal daging yang disebut hati. Dengan
perubahan itulah sering kali manusia berkeluhkesah, tidak merasa puas, dan
kecemasan yang dihadapinya terus-menerus ini adalah karena Allah menempatkan
dalam setiap hati manusia sebuah ide tentang keabadian.
Pada dasarnya,
manusia setiap melakukan sesuatu menginginkan keuntungan bagi dirinya sendiri,
manusia senantiasa menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih. Lebih
kaya, lebih seneng, lebih berkuasa, lebih pinter, lebih hebat, pokoknya lebih
segalanya lah dari keadaan yang
terjadi pada saat ini. Hal itu yang membuat saya yakin bahwa keabadian hanya dimiliki dzat yang
maha satu. Seperti sebuah contoh yang sering terjadi dalam kehidupan
masyarakat, seseorang yang sedang mencalonkan diri sebagai kepala desa yang
dengan keinginan tinggi terhadap profesinya itu membuat dirinya mau melakukan
sesuatu yang kurang baik denagn cara menyuap masyarakat yang ada di desanya
agar dirinya terpilih sebagai orang nomor satu di desanya tersebut. Setelah
keinginannya itu tercapai dia mulai menunjukkan sikap tamaknya, ketika sudah
berakhir masa jabatannya dia mencalonkan diri lagi sebagai bupati. Dengan
suapan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Ini mewakili sebuah jenis
penyimpangan dari nafsu yang ada dalam diri manusia, untuk bergerak kepada
Allah, yang mencukupi segala yang ada. Tetapi tanpa “Taqwa”, tanpa perhatian
pada sebuah kesadaran ilahi. ide
keabadian ini yang tertanam dalam hati manusia dapat menuntunnya kepada suatu
tuntutan untuk mendapatkan segala sesuatu yang salah dan menyalahi aturan Ilahi
yang telah digariskan-Nya. Nabi
Muhammad SAW.telah memberikan perbandingan antara hati manusia dengan selembar
bulu tak kekal yang terombang-ambing kesana kemari oleh tiupan angin dan sinar
yang menyilaukan, Beliau membicarakan tentang hati yang tidak tertuntun, dari
manusia yang tidak mempunyai petunjuk yang benar.
Niat yang baik sebagai ide keabadian, sangatlah penting tertanam
dalam hati manusia sebelum melakukan aktivitas apapun. Al-Qur'an menggambarkan Islam
sebagai perluasan dari hati. Maka inilah Islam (ketundukan) kepada kehendak
Allah yang merubah hati. Ini adalah kerangka kerja dari ketundukan yang
mengembalikan kecondongan hati menjauh dari duniawi dan mendekatkan diri kepada
Allah, dan yang menyiapkan arah bagi ide keabadian yang berada dalam diri
manusia. Yang hatinya selalu berubah sesuai arah yang Allah ridhai, “tsabbit
qhalby alaa dhinik” sehingga kita menjadi orang yang selalu mendapatkan kasih
sayang yang abadi dari-NYA di dunia sampai hari kebangkitan yang abadi.
0 komentar:
Posting Komentar