Minggu, 20 April 2014

“ Ide keabadian ”

Hati dalam bahasa al-qur’an adalah qalbu yang artinya berubah. Ada yang mengatakan tidak dikatakan hati kalau tidak berubah-ubah. Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang dalam hidupnya di pimpin oleh segumpal daging yang disebut hati. Dengan perubahan itulah sering kali manusia berkeluhkesah, tidak merasa puas, dan kecemasan yang dihadapinya terus-menerus ini adalah karena Allah menempatkan dalam setiap hati manusia sebuah ide tentang keabadian.
Pada dasarnya, manusia setiap melakukan sesuatu menginginkan keuntungan bagi dirinya sendiri, manusia senantiasa menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih. Lebih kaya, lebih seneng, lebih berkuasa, lebih pinter, lebih hebat, pokoknya lebih segalanya lah dari keadaan yang terjadi pada saat ini. Hal itu yang membuat saya yakin   bahwa keabadian hanya dimiliki dzat yang maha satu. Seperti sebuah contoh yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, seseorang yang sedang mencalonkan diri sebagai kepala desa yang dengan keinginan tinggi terhadap profesinya itu membuat dirinya mau melakukan sesuatu yang kurang baik denagn cara menyuap masyarakat yang ada di desanya agar dirinya terpilih sebagai orang nomor satu di desanya tersebut. Setelah keinginannya itu tercapai dia mulai menunjukkan sikap tamaknya, ketika sudah berakhir masa jabatannya dia mencalonkan diri lagi sebagai bupati. Dengan suapan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Ini mewakili sebuah jenis penyimpangan dari nafsu yang ada dalam diri manusia, untuk bergerak kepada Allah, yang mencukupi segala yang ada. Tetapi tanpa “Taqwa”, tanpa perhatian pada sebuah kesadaran ilahi. ide keabadian ini yang tertanam dalam hati manusia dapat menuntunnya kepada suatu tuntutan untuk mendapatkan segala sesuatu yang salah dan menyalahi aturan Ilahi yang telah digariskan-Nya. Nabi Muhammad SAW.telah memberikan perbandingan antara hati manusia dengan selembar bulu tak kekal yang terombang-ambing kesana kemari oleh tiupan angin dan sinar yang menyilaukan, Beliau membicarakan tentang hati yang tidak tertuntun, dari manusia yang tidak mempunyai petunjuk yang benar.
Niat yang baik sebagai ide keabadian, sangatlah penting tertanam dalam hati manusia sebelum melakukan aktivitas apapun. Al-Qur'an menggambarkan Islam sebagai perluasan dari hati. Maka inilah Islam (ketundukan) kepada kehendak Allah yang merubah hati. Ini adalah kerangka kerja dari ketundukan yang mengembalikan kecondongan hati menjauh dari duniawi dan mendekatkan diri kepada Allah, dan yang menyiapkan arah bagi ide keabadian yang berada dalam diri manusia. Yang hatinya selalu berubah sesuai arah yang Allah ridhai, “tsabbit qhalby alaa dhinik” sehingga kita menjadi orang yang selalu mendapatkan kasih sayang yang abadi dari-NYA di dunia sampai hari kebangkitan yang abadi.




0 komentar:

Posting Komentar