Rina Hartatik
Fakultas Psikologi Universitas
Proklamasi 45
Yogyakarta
Saya adalah gadis yang di lahirkan di pulau Giliyang. Disini saya
akan mengisahkan sedikit tentang pulau yang sering dikatakan Pulau Hantu. Bermula
dari kisah seorang Ulama’ yang mewakafkan dirinya untuk membobot Giliyang
menjadi sebuah pulau yang damai, sejahtera dan jauh dari gangguan para penjajah
yang waktu itu disebut dengan Lanun. Pulau yang dulunya bernama Pulau Sere
Elang itu sekarang sudah menjadi Pulau Giliyang. Giliyang merupakan salah satu
kepulauan yang berada di Kabupaten Sumenep yang memiliki objek wisata dengan oksigen terbaik kedua sedunia. Dengan
kenyataan itu, bersyukurlah warga yang tinggal di Pulau Giliyang Kecamatan
Dungkek, Kabupaten Sumenep Madura. Karena dari hasil penelitian tim Pusat
Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN akhir Juli 2006 lalu, yang kemudian
dilakukan kaji ulang pada 27 Desember 2011 lalu oleh BLH (Badan Lingkungan
Hidup) Sumenep dan Jatim serta pihak Bappeda menunjukkan bahwa Pulau Giliyang
satu-satunya pulau yang mempunyai oksigen terbaik di dunia sehingga sangat
tepat bila kawasan itu dijadikan wisata kesehatan (Kabar Madura, 2012).
Di
pulau Giliyang terdapat 2 Desa, yaitu Desa Banraas dan Desa Bancamara. Dimana dalam
masing-masing Desa tersebut terdapat beranekaragam wisata yang sangat menakjubkan
diantaranya Ropet (pantai yang panoramanya sangat indah), Gua Air, To Cangghe
(Batu Kundang) dan banyak wisata lain yang sangat mendukung untuk menjadikan
Giliyang itu sebagai Pualu yang berpanorama indah. Giliyang juga merupakan
Pulau kecil yang dikelilingi laut, maka dari itu kebanyakan penduduk Pulau
Giliyang pekerjaannya manjadi Nelayan.
Batu
Canggah
Beralih
kepada kebudayaan di pulau saya tersebut, disana nikah muda merupakan salah
satu kebudayaan yang terdapat di Pulau Giliyang. Banyak anak yang baru lulus
SD, SMP, dan bahkan anak yang belum lulus SD pun sudah di nikahkan. Jika
umurnya sudah sekitar 19.an tahun masih belum mempunyai pasangan maka mereka
(para penduduk) yang berada di Pulau Giliyang akan mengatakan bahwa orang
tersebut tidak laku. Dan hal yang seperti itu yang menjadikan para orang tua
dari anak cenderung menjodohkan anaknya sejak masih usia dini. Berbicara
masalah sistem perjodohan yang ada di Pulau Saya tersebut mengingatkan saya
pada kejadian 3 tahun yang lalu, dimana waktu itu awal pertama saya mengenal
dengan yang namanya paksaan. Paksaan karena harus menerima orang yang sama
sekali tidak saya kenal sebagai tunangan saya. Hal yang menjadi beban buat saya
bukan karena saya di tunanganin waktu usia dini, tapi karena satu alasan yaitu
takut saya harus berhenti mengenyam pendidikan karena masalah tersebut. Tapi
tuhan itu maha mendengar, maha tahu apa yang menjadi keinginan hamba-hambanya.
Akhirnya saya putus dengan tunangan saya, disitu juga awal saya merasakan
kebebasan.
Kalau dilihat dari sisi wisata
kesehatan, Pulau saya itu tidak ada duanya di seluruh dunia. Kalau promosi dan
fasilitas pendukung sudah bagus, bukan tidak mungkin akan banyak turis asing
yang mencari Pulau saya tersebut. Selain harus memperbaiki sarana pelabuhan
yang ada di pulau tempat saya itu semua infrastruktur juga harus dibangun.
Seperti yang telah saya ketahui bahwa hampir semua jalan utama di Pulau saya
tersebut dalam keadaan rusak. Meskipun sudah diaspal, jalan-jalan utama ini
cepat mengelupas dan berganti menjadi jalan berbatu. Selain itu ada lagi hal
yang sangat menykitkan yaitu karena penduduk ditempat saya hanya mengandalkan
dua pembangkit listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). PLTD itupun yang dikelola oleh swasta
hanya menyediakan lampu selama 6 jam sehari semalam yaitu dari pukul 18.00
sampai 00.00. Sayangnya PLTB sudah tidak berfungsi lagi, meskipun kincir angin
pembangkit listrik di pulau tempat kelahiran saya tersebut masih ada sampai
sekarang. Enam buah tower penyangga kincir angin juga
masih berdiri kokoh. Entah kenapa kini kincir angin itu tidak difungsikan lagi
dan penduduk hanya berharap pada PLTD. Ketika terdapat permasalahan pada
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel itu maka terpaksa seluruh penduduk Pulau
Giliyang, baik itu Desa Bancamara ataupun Desa Banraas harus menggunakan “Damar
Conglet” dalam istilah maduranya. Yang mana damar conglet itu hanya mampu
menerangi tempat sekitar 1 meter saja.
Sejarah tentang Giliyang yang
dinamakan Pulau Hantu itu karena sebelum masuk pembangkit listrik PLTD dan
PLTB, pulau kelahiran saya tersebut adalah pulau yang sangat menyeramkan.
Kenapa bsaya mengatakan seperti itu ? Karena hampir keseluruhan penduduk
Giliyang tidak menggunakan lampu yang ada hanya Damar Conglet pada waktu itu,
kelihatannya sangat menyeramkan karena cahaya lampu hanya ada ketika kita
melihat rumah-rumah orang kaya saja. Seandainya pulau saya tersebut bisa
mengeluarkan air mata layak manusia, maka saya yakin pulau saya adalah pulau
yang sangat banyak mengeluarkan air mata ketimbang wilayah-wilayah lainnya jika
melihat daerahnya yang kurang diperhatikan oleh mereka yang seharusnya
membangun dan menyamaratakan fasilitas di pulau saya itu dengan daerah
perkotaan yang ada di Negeri Indonesia ini.